Aparat Desa di Sambas Kalbar Edarkan Uang Palsu Diselipkan dalam Honor

Uun Yuniar ยท Kamis, 20 Agustus 2020 - 09:53 WIB
Aparat Desa di Sambas Kalbar Edarkan Uang Palsu Diselipkan dalam Honor
Polisi menangkap aparatur Desa Tanah Hitam, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Kalimantan Barat yang mengedarkan uang palsu. (Ist)

PONTIANAK, iNews.id - Polisi menangkap Amaludin (35), aparatur Desa Tanah Hitam, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat karena mengedarkan uang palsu. Pelaku mengedarkan uang palsu dengan cara menyelipkan ke honor aparat desa.

Pelaku sehari-hari menjabat Kepala Seksi Pemerintahan di Desa Tanah Hitam. Dia diduga telah mengedarkan uang palsu pecahan Rp100.000 sebanyak 69 lembar untuk pembayaran honorarium Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Tanah Hitam tahun anggaran 2020.

"Uang tersebut dicetak selama tiga hari berturut turut, mulai tanggal 4 sampai dengan 6 Agustus 2020 yang kemudian diedarkan, Jumat (7/8) sekitar pukul 14.00 WIB, di Kantor Kepala Desa Tanah Hitam," ujar Kapolsek Paloh AKP Eko Andi Sutejo, Rabu (19/8/2020).

Dari hasil pemeriksaan, uang palsu tersebut diterima oleh 10 orang, termasuk Bendahara dan Kepala Desa Tanah Hitam.

Dari keterangan pelaku, uang palsu tersebut dibuat oleh tersangka di kediamannya di Dusun Peria, Desa Tanah Hitam, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, menggunakan mesin fotocopy.

Saat dilakukan penggeledahan di kediaman tersangka, ditemukan berbagai barang bukti berupa, tujuh lembar uang rupiah asli pecahan Rp100.000, satu unit printer merk EPSON serie L3110, satu gunting kertas ukuran sedang, satu rim kertas HVS putih A4, dan satu buah penggaris kertas.

"Juga ditemukan lima lembar daftar penerimaan uang honorarium, kemudian satu lembar bukti pencairan SPP tertanggal 29 Juli 2020 sebesar Rp2,6 juta; satu lembar bukti pencairan SPP tertanggal 29 Juli 2020 sebesar Rp21 juta," katanya.

Dalam membuat uang palsu tersebut, tersangka memfotocopy uang kertas pecahan Rp100.000 dengan warna yang serupa dengan asli.

Untuk mengelabui para korbannya, uang palsu tersebut dicampur dengan uang asli, selanjutnya diserahkan kepada para korban selaku penerima uang honorarium dan insentif tersebut.

"Uang palsu tersebut, tujuannya mengganti uang honorarium dan insentif yang sebelumnya sudah diterima oleh tersangka, karena uangnya telah dipakai untuk kepentingan pribadi," ujarnya.

Akibat perbuatannya, tersangka diancam pasal 36 ayat (1) dan ayat (3) Undang Undang RI Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun, dan pidana denda paling banyak Rp50 miliar.


Editor : Reza Yunanto