get app
inews
Aa Text
Read Next : Gempa Hari Ini Guncang Bontang Kaltim, Cek Kekuatan Magnitudonya!

Cerita Buaya Kuning yang Melindungi Suku Dayak Tanjung dari Serangan Penjajah

Sabtu, 24 Juli 2021 - 09:10:00 WIB
Cerita Buaya Kuning yang Melindungi Suku Dayak Tanjung dari Serangan Penjajah
Rumah adat (rumah panjang) masyarakat Dayak yang bisa dijumpai sepanjang perjalanan darat dari Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu hingga menuju PLBN Badau. (Foto: Koran SINDO/Hendri Irawan)

PONTIANAK, iNews.id - Masyarakat suku Dayak dulu kerap berperang memperebutkan wilayah hingga tanah ladang. Hal ini pun dialami suku Dayak Tanjung yang mendiami kawasan danau dan rawa gambut dengan sungai-sungai kecil di Kalimantan Timur.

Mereka hidup di sepanjang alur Sungai Enggelam yang bermuara ke Danau Melintang akibat perang dan penaklukan wilayah. Mereka mendiami lokasi tersebut karena terpaksa berpindah-pindah tempat akibat perang antarsuku.

"Nenek moyang kami sudah pindah beberapa kali sebelum mendiami Desa Enggelam untuk mencari tempat aman dari serbuan kelompok lain," kata Kepala Desa Enggelam, Mong.

Setelah membangun permukiman yang sekarang menjadi Desa Enggelam, warga tentu tetap cemas. Upaya membangun pertahanan dengan memasang titik pemantau di setiap sisi sungai tetap dilakukan.

Namun para penyerang tak kunjung datang lagi. Warga tinggal di desa tersebut dengan aman. Dari kisah terdahulu, ada buaya kuning yang menjaga kampung mereka.

"Dari kisah yang kami dapat, di salah satu aliran sungai ada buaya berwarna kuning yang menjaga kampung kami. Buaya ini tidak bisa dikalahkan oleh para penyerang itu," katanya.

Lokasi buaya kuning berada di salah satu sudut sungai. Lokasinya seolah menjadi gerbang masuk ke desa. Dahulu sejumlah warga kerap melihat kemunculan buaya ini, meski beberapa tidak mempercayainya.

"Warga menamakan tempat ini sebagai Batu Berhala yang kemudian dijadikan simbol untuk memohon sesuatu. Buaya ini diyakini sebagai makhluk gaib penunggu desa," katanya.

"Kalau mau membangun usaha, penduduk desa ke sini dengan membawa sesuatu seperti makanan kemudian memohon sesuatu. Permohonan harus disertai dengan nazar, jika berhasil, harus kembali memberikan sesuatu," ujarnya.

Namun Batu Berhala ini sudah jarang dilirik masyarakat di zaman sekrang, karena adanya keyakinan agama yang dipercayai. Beberapa yang masih berkunjung hanya orang-orang tua saja.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut