Guru Pensiun Per Tahun 300 Orang, Pemkot Pontianak Kekurangan Tenaga Pendidik

Antara ยท Minggu, 26 Juli 2020 - 14:32 WIB
Guru Pensiun Per Tahun 300 Orang, Pemkot Pontianak Kekurangan Tenaga Pendidik
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono saat menghadiri Konferensi Kerja Kota XI Pengurus PGRI Pontianak masa bakti 2015-2020. (Foto: Antara)

PONTIANAK, iNews.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) kekurangan sumber daya manusia terutama guru. Tenaga guru honorer menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi kekurangan.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan, jumlah guru yang pensiun sekitar 200-300 orang setiap tahunnya. Sementara usulan yang diajukan ke pemerintah pusat sesuai dengan analisa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, rata-rata yang dipenuhi hanya sekitar 40 hingga 50 persen.

“Kondisi ini mengakibatkan kebutuhan tenaga guru tidak pernah terpenuhi secara keseluruhan, tenaga guru honorer menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi kekurangan tersebut," kata Edi Rusdi Kamtono saat memberikan sambutan pada Konferensi Kerja Kota XI Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pontianak masa bakti 2015-2020 di Pontianak, Minggu (26/7/2020).

Menurutnya kondisi ini menjadi masalah tersendiri dan menjadi pekerjaan rumah Pemkot Pontianak dalam menyelesaikan permasalahan kekurangan SDM tenaga pendidik.

Di sisi lain, dirinya juga menilai honor yang diperoleh oleh guru honorer saat ini terbilang belum layak. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak akan berupaya untuk mencari solusinya agar kesejahteraan guru honorer lebih terjamin.

Pihaknya akan mengkaji bersama Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mencari solusinya. "Bagaimana formulasinya agar setidaknya meningkatkan honor bagi guru honorer," katanya.

Dia mengakui, meski kurangnya SDM guru menjadi pekerjaan rumah Pemkot Pontianak, namun tidak akan tuntas tanpa adanya campur tangan pemerintah provinsi dan pusat. Dia berharap dukungan dari PGRI sebagai wadah organisasi guru untuk melakukan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan kompetensinya.

“Para guru sudah harus menguasai IT, sebab pembelajaran yang dilakukan saat ini lebih banyak memanfaatkan perangkat tersebut,” katanya.

Program ke depan tentu ini menjadi dasar bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan berdasarkan pengalaman selama menghadapi pandemi Covid-19.

"Kita tidak tahu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir. Kita tidak bisa memastikan karena anak-anak sangat rentan tertular," katanya.


Editor : Umaya Khusniah