NGABANG, iNews.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Landak, Kalimantan Barat, tengah melakukan langkah masif untuk menangani tingginya angka Anak Putus Sekolah (ATS) di wilayahnya. Pihaknya membentuk tim lintas sektoral untuk memvalidasi lebih dari 10.000 data anak putus sekolah agar dapat diberikan solusi pendidikan yang tepat.
Upaya tersebut tergabung dalam program SIGAP yang telah diluncurkan pada pertengahan Juni lalu. Program ini tidak hanya menyasar anak-anak di desa, tetapi juga ratusan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang diketahui belum menuntaskan pendidikan dasar.
Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menegaskan bahwa penanganan anak putus sekolah tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Dia menginstruksikan jajarannya untuk memetakan setiap masalah dengan detail agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.
"Kategorinya harus jelas, apakah mereka drop out, lulus tapi tidak melanjutkan, atau tidak pernah sekolah sama sekali. Opsinya untuk tiap kategori itu apa, harus dibikin klasternya, termasuk klaster penanganannya, agar solusinya jelas," ujar Karolin, beberapa waktu lalu.
Karolin juga meminta agar setiap rencana kerja yang telah disusun oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) segera dieksekusi menjadi program nyata yang menyentuh masyarakat bawah.
"Semua rencana program penanganan anak putus sekolah ini harus dibuat lebih konkret, lebih teknis, dan sampai pada solusi akhirnya. Jangan ada yang dibiarkan menggantung tanpa kepastian," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadis Dikbud) Kabupaten Landak, Samsul Bahri, memaparkan bahwa pihaknya saat ini tengah berjibaku melakukan sistem jemput bola ke kecamatan-kecamatan untuk memvalidasi data belasan ribu anak tersebut.
Editor : Rizqa Leony Putri
Artikel Terkait