Salat Id di Masjid atau Rumah? Ini Penjelasan MUI Kalbar

Antara ยท Rabu, 20 Mei 2020 - 17:20 WIB
Salat Id di Masjid atau Rumah? Ini Penjelasan MUI Kalbar
Ketua MUI Kalbar HM Basri HAR (Antara)

PONTIANAK, iNews.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) telah mengeluarkan penjelasan mengenai pelaksanaan salat Idul Fitri yang bertepatan dengan pandemi Covid-19. Ada sejumlah hal mendasar yang harus dipatuhi bila menggelar salat Id.

"Berdasarkan kajian dari pihak yang berwenang (Dinas Kesehatan), hasil pencermatan terhadap perkembangan situasi dan kondisi terkini terkait pandemi COVID-19 serta pembahasan oleh Komisi Fatwa maka Dewan Pimpinan Majelis Ulama Provinsi Kalimantan Barat memberikan penjelasan," ujar Ketua MUI Provinsi Kalbar Basri HAR di Pontianak, Rabu (20/5/2020).

Menurutnya, penjelasaan itu berdasarkan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Mewabahnya Covid-19; Surat Dewan Pimpinan MUI Pusat Nomor: A-1123/DP-MUI/IV2020 perihal Pelaksanaan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020.

Kemudian Surat Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Nomor 25/MUI-KB/III/2020 tentang Taushiyah Penyelenggaraan Ibadah di Masjid dalam Situasi Darurat Covid-19, dan Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19.

Berikut penjelasan MUI Kalbar. Pertama, penyelenggaraan salat Idul Fitri 1441 H di Kalimantan Barat tetap tidak ke luar dari ketentuan Fatwa MUI Nomor 28 tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan salat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19.

Ketentuan tersebut di antaranya, salat Idul Fitri boleh dilaksanakan dengan cara berjemaah di tanah lapang, masjid, mushalla, atau tempat lain bagi umat Islam yang berada di kawasan yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H.

"Salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktivitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan pendapat ahli yang kredibel dan amanah," katanya.

Atau umat Islam yang berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas Covid-19 dan diyakini tidak terdapat penularan. Seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena Covid-19, dan tidak ada ke luar masuk orang.

"Salat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri (munfarid), terutama yang berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali," katanya.

Pelaksanaan salat Idul Fitri, baik di masjid maupun di rumah harus tetap mengikuti protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan, antara lain dengan memperpendek bacaan salat dan pelaksanaan khutbah.

Kedua, mengenai ketentuan salat Idul Fitri di rumah dapat dilakukan secara berjemaah dan dapat dilakukan secara sendiri (munfarid).

Jika dilaksanakan secara berjamaah, maka ketentuannya sebagai berikut:
a. Jumlah jamaah yang shalat minimal 4 orang, satu orang imam dan 3 orang makmum.
b. Kaifiat shalatnya mengikuti ketentuan Kaifiat Shalat Idul Fitri Berjamaah.
c. Usai shalat Id, khatib melaksanakan khutbah.
d. Jika jumlah jamaah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksanaan shalat jamaah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, maka shalat Idul Fitri boleh dilakukan berjamaah tanpa khutbah.

Sedangkan jika dilaksanakan secara sendiri (munfarid), maka ketentuannya sebagai berikut:
a. Berniat shalat Idul Fitri secara sendiri.
b. Dilaksanakan dengan bacaan pelan (sirr).
c. Tata cara pelaksanaannya mengacu pada Kaifiat Shalat Idul Fitri Berjamaah.
d. Tidak ada khutbah.


Editor : Reza Yunanto