3 Hari Tak Pulang, Buruh Perkebunan Sawit Tewas Membusuk di Perbatasan Malaysia

Antara ยท Senin, 29 Juni 2020 - 08:39 WIB
3 Hari Tak Pulang, Buruh Perkebunan Sawit Tewas Membusuk di Perbatasan Malaysia
Penemuan mayat membusuk buruh perkebunan sawit di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kapuas Hulu, Kalbar. (Antara/Istimewa)

KAPUAS HULU, iNews.id - Seorang buruh perkebunan sawit ditemukan tewas di perbatasan Malaysia-Indonesia yang berada di Desa Kantuk Asam, Kecamatan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Jasad korban ditemukan dalam keadaan membusuk di pinggir sungai.

Korban yaitu laki-laki bernama Kausar (32). Jasad korban ditemukan pada Minggu (28/6/2020), setelah orang tua angkat korban melapor ke perusahaan tempat korban bekerja.

"Korban ditemukan dengan kondisi meninggal dan membusuk di menggunakan baju dalam dan tidak menggunakan celana di pinggir sungai dekat pondok permanen," kata Kasat Reskrim Polres Kapuas Hulu, Iptu Siko dihubungi dari Putusibau, Minggu (28/6/2020) malam.

Dia menjelaskan, kronologi penemuan mayat bermula ketika korban sudah tiga hari tidak pulang ke rumah orang tua angkatnya yang bernama Norhayati (40).

Orang tua korban pada Sabtu (27/6/2020) mendatangi barak perusahaan sawit tempat korban bekerja untuk menanyakan keberadaan korban.

"Namun orang-orang di barak juga sudah tiga hari tidak melihat korban," ucapnya.

Kemudian pada Minggu (28/6/2020) pagi, orang tua korban bersama sejumlah warga melakukan pencarian dengan menelusuri sungai yang berada di antara barak tempat para pekerja tinggal.

Saat pencarian itu, warga mencium aroma busuk yang ketika ditelusuri ternyata mayat korban yang sudah membusuk.

Atas penemuan mayat korban tersebut, keluarga melaporkan kepada satpam perusahaan yang kemudian diteruskan ke Polsek Puring Kencana. Setelah dievakuasi, mayat korban dilakukan visum dan kemudian diserahkan kembali ke keluarga untuk dimakamkan.

Siko mengatakan, kasus kematian korban ditangani Polres Kapuas Hulu.

"Penyebab kematian masih menunggu hasil visum dan masih dalam penyelidikan," katanya.


Editor : Reza Yunanto